Berdikari

Istri Ganjar Dorong Kesetaraan Gender-Human Security

JAKARTA – Istri capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo, Siti Atikoh, menghadiri simposium dan seminar internasional yang diadakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) bersama Asosiasi Studi Jepang Indonesia (ASJI). Dalam forum tersebut, Atikoh berbicara mengenai kesetaraan gender hingga keamanan manusia.

Acara diselenggarakan di UNS Inn pada Kamis (7/12). Wanita yang merupakan alumni University of Tokyo itu diundang dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Penasehat ASJI Jawa Tengah.

Topik yang diangkat dalam pertemuan itu adalah ‘Human Security Issues: Revisiting the Concept of Human Security from the Perspective of Japan and Indonesia.’ Peserta acara terdiri dari para peneliti, pemerhati budaya Jepang, alumni mahasiswa kampus Jepang hingga pelajar.

Atikoh mengatakan keamanan manusia atau human security mencakup berbagai hal, mulai dari permasalahan ekonomi, sosial, lingkungan hingga politik. Atikoh menilai keberadaan human security memberikan jaminan hidup layak terhadap masyarakat.

“Human security mencakup berbagai masalah ekonomi, sosial, lingkungan, dan politik. Ini tentang memastikan bahwa setiap orang dapat hidup bebas dari rasa takut, kekurangan, dan penindasan,” kata Atikoh dalam pemaparannya.

Sebagai dua negara yang bersahabat, Atikoh memandang Jepang maupun Indonesia perlu mengambil langkah-langkah signifikan untuk meningkatkan human security. Sebagai contoh, kedua negara ini sama-sama rawan terjadi bencana gempa bumi sehingga sistem siaga bencana bisa diperkuat.

“Baik Jepang maupun Indonesia sama-sama rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan bencana alam lainnya. Dengan berbagi pengetahuan, keahlian, dan praktik terbaik, kita dapat meningkatkan sistem manajemen bencana dan meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat. Kolaborasi di berbagai bidang seperti sistem peringatan dini, rencana evakuasi, dan pembangunan infrastruktur akan sangat penting dalam menjaga kehidupan dan penghidupan masyarakat kita,” terangnya.

Selain itu, jaminan keamanan manusia juga ditentukan melalui stabilitas ekonomi. Atikoh kemudian menilai perlu adanya langkah serius dalam menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan dan inklusif bagi masyarakat.

“Hal ini tidak hanya akan meningkatkan standar hidup mereka tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas sosial dan mengurangi risiko konflik,” ujarnya.

Atikoh juga berbicara mengenai isu kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan. Atikoh berharap agar kedua negara dapat menciptakan lingkungan bermasyarakat yang lebih melibatkan perempuan, misalnya di bidang pendidikan maupun perekonomian.

“Baik Jepang maupun Indonesia telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam mendorong kesetaraan gender, namun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Dengan berbagi pengalaman, praktik terbaik, dan kebijakan, kita dapat menciptakan lingkungan yang memungkinkan perempuan berpartisipasi penuh dalam semua aspek masyarakat. Hal ini mencakup akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, peluang ekonomi, dan keterwakilan politik,” ucapnya.

Atikoh juga memandang hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia bisa ditingkatkan melalui pengembangan infrastruktur hingga pembinaan dalam penelitian. Atikoh menuturkan Jepang sebagai negara yang memiliki kemajuan teknologi di bidang medis, sementara Indonesia yang memiliki populasi besar memerlukan akses terhadap layanan kesehatan berkualitas.

“Dengan membina kemitraan dalam penelitian, pengembangan, dan infrastruktur layanan kesehatan, kita dapat memperkuat sistem layanan kesehatan kita dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal di saat krisis,” imbuhnya. (sumber: detik.com)

 

Related Articles

Back to top button