Hukum & Kriminal

PH Terdakwa Ajukan Saksi Diterapkan Pasal 242 dan 224 KUHPidana

LANGKAT, metro24jam.news- Kuasa Hukum dari kedua terdakwa Sulhanda Yahya alias Tato dan Parsadanta Sembiring alias Sahdan dalam perkara pembunuhan Paino mantan anggota DPRD Langkat kecewa atas sikap dua saksi yang selalu mangkir dalam persidangan.

Irwansyah Putra Nasution selaku Kuasa Hukum kedua terdakwa menjelaskan, bahwa pihak bermohon mengatakan agar saksi datang, namun hingga saat ini tidak juga hadir. “Sama-sama tadi kita saksikan, bahwa kami bermohon kepada saksi Sumarti alias Atik dihadirkan akan tetapi sampai sekarang yang bersangkutan tidak hadir dan kita sangat yakin panggilan sah dan patut sudah disampaikan oleh JPU,” ujar Irwansyah, Senin, (17/7) malam, seusai mengikuti persidangan.

Bahkan Irwansyah menambahkan pihaknya, juga mengajukan kepada Majelis Hakim agar saksi dapat diterapkan pasal 242 dan 224 KUHPidana, “Kita juga sudah mengajukan kepada saksi Sumarti kepada Majelis Hakim untuk memerintahkan JPU agar menerapkan pasal 242 dan 224 KUHPidana yakni 242 keterangan palsu dan 224 ini bagaimana saksi Sumiati ini tidak hadir,” ungkapnya.

Irwansyah juga merasa heran karena saksi Sumarti tidak hadir dan ada surat sakitnya dari Patumbak, sedangkan alamat tempat tinggalnya di Kabupaten Langkat.

“Tadi juga disampaikan kepada Majelis Hakim, dirinya (saksi Sumarti) ada surat sakit dari Klinik dan kita duga itu bagaimana mungkin dia tinggal di Langkat akan tetapi surat sakitnya dari Patumbak,” ujar Irwansyah.

Untuk itu, sambung Irwansyah, pihaknya tadi mengajukan kepada Majelis Hakim meminta agar yang buat surat keterangan dokter tersebut, dokternya dihadirkan dan juga meminta agar langsung di konfrontir dengan pihak IDI.

“Kita tadi mengajukan kepada Majelis Hakim meminta dokter yang membuat surat keterangan dihadirkan, karena kita sangat yakin surat itu ada yang tidak benar disitu, sehingga nantinya, kepada dokter yang mengeluarkan surat dan IDI dimintai keterangan dalam persidangan,” pungkas Irwansyah.

Menurut Irwansyah, dimana dalam surat alasan sakit tersebut yang dalam bahasa Indonesia sakit pencernaan dan ada kejanggalan dia tinggal di Langkat sementara surat sakitnya dari Patumbak jadikan terlalu jauh.

Kemudian keterangan saksi Rudi, sebut Irwansyah, terkait yang dibuang itu adalah senjata api dan sudah jadi terang benderang, makanya kami bermohon kepada Majelis Hakim untuk dapat menetapkan Sumarti alias Atik dan Joko ditingkatkan kepenyidikan artinya dari persoalan tidak kooperatif untuk hadir dalam memberikan keterangan bagaimana diperintahkan Undang -undang dan juga Sumarti alias Atik yang memberikan keterangan palsu.

Kemudian dari keterangan keterangan saksi Verbalisan pihak kepolisian, seperti tadi misalnya saksi Daster dan Firman Simbolon bahwasanya saksi Sumarti lah yang menyerahkan senjata api kepada Sahdan, setelah itu Sahdan menyerahkan kepada Tosa dan Tosa selanjutnya menyerahkan kepada Eksekutor Dedi dan selanjutnya beralih lagi ke Tio.

“Artinya tidak dapat dipungkiri saksi ini berperan penting untuk membuka tabir keadilan seterang-terangnya dan kalaupun dia terus berbohong, tadi kita sudah mengajukan untuk menerapkan pasal 242 dan 224 KUHPidana,” pungkas Irwansyah.

Sebelumnya telah digelar persidangan atas perkara pembunuhan Paino mantan anggota DPRD Kabupaten Langkat, persidangan beragendakan pemeriksaan seorang saksi dan selebihnya konfrontasi (kronfrontir Verbalisan) dari pihak kepolisian atas keterangan Rudi, Sumiati dan Joko.

Namun Sumiati dan Joko mangkir dalam persidangan dan hal tersebut berulang kali terjadi. Keterangan saksi verbalisan, diperlukan guna mengklarifikasi, perbedaan keterangan yang disampaikan saksi antara waktu dilakukan di tingkat penyidikan dan pada waktu pemeriksaan sidang. (Wahyudie)

Kuasa hukum terdakwa Irwansyah Putra Nasution saat memberikan keterangan seusai mengikuti jalannya persidangan. (Wahyudie).

Related Articles

Back to top button