Pasang Telinga

Woy… Waktu Tempuh Berastagi Kabanjahe 1 Jam, Jarak Hanya 10 KM

KEMAJUAN itu bukan soal dari bangunan mewah berdiri kokoh, terdapat di pinggir jalan seperti kantor bupati, wali kota, gubernur, rumah dinas para pejabat, super market atau mall, serta gedung pencakar langit, yang menandakan wilayah tersebut berkembang dari sebelumnya.

Kota wisata Berastagi dan kota Kabanjahe, Kabupaten Karo dua tahun belakangan ini juga telah memasuki kemajuan. Kemajuan tersebut, bukan soal pariwisata, yang sudah tersohor hingga ke mancanegara lantaran iklimnya sejuk serta mempunyai dua gunung aktif, Sinabung dan Sibayak.

Bukan juga soal hotel berbintang, yang berlomba-lomba memberi promosi harga kamar, kepada para pengunjung terutama pada saat musim libur.

Atau pemandian air panas, yang sudah aman dinikmati para pengunjung, lantaran sempat menuai konflik antara pengelola air panas, yang berada di bawah kaki Gunung Sinabung, dengan Pemkab Karo, dan melibatkan pihak keamanan.

Apa lagi terkait menjamurnya bangunan coffee shop (kafe), yang menawarkan fasilitas pemandangan sejuk seperti, suasana alam taman hutan raya (Tahura) menginggat saat ini trend menyeruput kopi.

Tetapi ini soal kemajuan rusaknya infrastruktur jalan raya Jamin Ginting, yang kondisinya semakin memperhatikan setiap tahunnya. Akibat tidak diperhatikan oleh pihak dinas terkait, atau memang wilayah gunung sudah dipandang sebelah mata oleh para petinggi, yang memiliki kursi empuk di ruang kantor Gubernur Sumatera Utara.

Berdampak pada wakru tempuh dari Kota Berastagi, menuju ibu Kota Pemkab Karo, yaitu Kabanjahe sekitar satu jam, dengan kecepatan kendaraan dibawah 50 kilometer per jam. Lazimnya hanya memakan waktu 30 hingga 40 menit.

Padahal, jarak Berastagi-Kabanjahe hanya 10 kilometer. Tetapi dapat menelan waktu 60 menit, bagi penguna jalan roda empat, dan roda dua berkisar 45 menit lebih.

Semua itu disebabkan setiap hari nya, jalur jalan Kota Berastagi menuju Kabanjahe serta sebaliknya, kerap menuai kemacetan. Kemacetan panjang tersebut, dirasakan pelintas jalan mulai dari Desa Raya hingga sampai Pajak Roga Berastagi.

Kemacetan disebabkan berapa faktor, atas jalur jalan rusak, berlubang, dan banjir saat hujan turun. Ditambah lagi angkutan umum yang mengantar anak sekolah tingkat SMP dan SMIK kerap mencuri jalur, dan akhirnya menuai kemacetan terutama pada pagi hari, dan pulang sekolah.

Begitu juga sopir angkutan dalam provinsi, yang kerap disebut raja jalanan mengutamakan uang setoran saja, tanpa memperdulikan kegelisahan para penumpangnya. Tidak jarang menuai kegaduhan atau perkelahian sesama sopir angkutan, dan kendaraan pribadi yang melintas.

“Setiap hari saya berangkat dari rumah, jam 15.10 WIB, dan sampai di tempat pangkalan jualan bakso di jalan Surya Indah Berastagi jam 15.50 WIB. Apa engak kacau itu. Padahal naik sepeda motor, dan rumah saya di depan SMPN 3 Berastagi, Desa Raya. Setengah jam lebih juga baru sampaikan,” keluh Agung, warga Berastagi, Minggu (5/2/23).

Kemacetan tersebut ada berapa titik, lanjut diutarakan Agung, terutama di jalur jalan Desa Raya, seperti di simpang RS Amanda, dimana penguna jalan berlomba lomba masuk menuju jalan pintas (potong). Ditambah lagi angkutan umum kerap berhenti pas di simpang menunggu sewanya, menghambat penguna jalur di belakangnya.

“Apa lagi memasuki jalan Pajak Roga, semua berlomba lomba untuk paling cepat masuk ke dalam Pasar Roga. Tidak banyak penguna jalan, yang mau mengalah, sudah pasti membuat macet. Ini yang disebut ada kemajuan di Karo soal waktu atas kemacetan. Dulu hanya menelan waktu 20 menit saya sampai ke pangkal jualan dari rumah,” pungkasnya yang mengamini tambahnya biaya pengeluaran beli bensin.

Penulis: Dede Basyri Hasibuan.

Related Articles

Back to top button