Beranda Wisata Menikmati Eloknya Danau Toba dari Puncak Huta Ginjang

Menikmati Eloknya Danau Toba dari Puncak Huta Ginjang

437
0
Foto: Usai memandangi eloknya Danau Toba, rombongan Kompri GKI-SSS menikmati aroma kopi Sigarar Utang di puncak Huta Ginjang. (f: ist)

MUARA – Jujur, saya sebagai seorang putra Batak Toba kelahiran Desa Sionom Hudon, Kecamatan Parlilitan (dulu Kabupaten Tapanuli Utara, kini jadi Humbahas), baru kali pertama menginjakkan kaki di Huta (kampung) Ginjang (atas), di Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut.

Ke Penang, Bangkok dan juga Singapura sudah pernah. Ke Bali sudah beberapa kali. Melihat objek wisata di Sumut, Aceh, Padang, Batam, Pekan Baru dan Jambi sudah biasa. Ke Jawa (Timur, Tengah dan Barat), juga sering.

Ada faktor keberuntungan. Kala menjadi bagian dari Jawa Pos Grup (koran milik Dahlan Iskan), saya sering ikut rapat di kota-kota yang saya sebut itu. Jadi saya dan kawan-kawan selalu menyisakan waktu mengunjungi objek-objek wisatanya sebelum kembali ke Medan.

Melihat Danau Toba? sebanarya juga sering, sebab kalau pulang kampung lebih sering memilih jalur, Medan-Siantar-Parapat-Balige, Siborongborong, belok kanan menuju Dolok Sanggul dan turun ke Parlilitan. Tapi ya itu, hanya memandang dari kedai kopi yang berada di tepi jalan sebelum masuk ke kota Parapat.

“Sudah pernah ke Huta Ginjang,” tanya Mas Nova Kristian. Dengan suara agak pelan saya jawab belum. Mas Nova kemudian diam. Saya tanya balik, “Mas udah sering ke Danau Toba.” “Ya seringlah, mertua saya kan orang sini,” katanya sembari menyebut nama salah satu desa, yang saya sendiri belum pernah dengar nama desa itu.

Beruntungnya saya, dalam kunjungan kasih Komisi Pria (kaum bapa) GKI-SU Batu Binumbun (Sabtu dan Minggu/26-27/11/22), Huta Ginjang menjadi salah satu objek wisata yang kami singgahi. Demi Huta Ginjang pula semua anggota komisi pria setuju jam keberangkatan dimajukan dari rencana pukul 10.00 Wib menjadi 06.00 WIB.

Berada di ketinggian 1.555 meter di atas permukaan laut membuat angin sepoi-sepoi berhawa sejuk tidak pernah berhenti berhembus di Huta Ginjang. Tidak tau datangnya dari mana dan akan pergi kemana. Namanya angin hanya bisa dirasakan.

Tak hanya soal angin, Huta Ginjang ternyata salah satu spot terbaik untuk menikmati keelokan Danau Toba setelah Merek di Kabupaten Karo dan Tomok di Kabupaten Toba serta Parapat di Kabupaten Simalungun. Kabarnya di Huta Ginjang bisa juga menikmati permainan layang gantung, tapi saat kami datang itu tidak ada.

Jika hendak ke Huta Ginjang, saat terbaik disarankan saat matahari masih tampak. Sebab jika terlalu pagi kabut akan menyelimuti seluruh panorama sehingga pengunjung tidak bisa melihat pemandangan. Begitu juga sore hari, kabutnya turun. Apabila sendang beruntung, pengunjung bisa melihat matahari tenggelam dari sudut Huta Ginjang.

Jika musim hujan tempat wisata satu ini sering tertutup kabut. Umumnya waktu turun kabut berkisar 15 menit hingga 30 menit saja. Setelahnya akan kembali normal dan tampak sinar matahari. Huta Ginjang juga menyediakan teropong bintang yang memfasilitasi pengunjung untuk melihat beberapa obyek wisata lain yang terlihat dari Huta Ginjang.

Teropong ini merupakan fasilitas dari Dinas Pariwisata Tapanuli Utara untuk melihat destinasi wisata di Danau Toba, salah satu contoh air terjun Situmurung, Batuguru yang terletak di tengah Danau Toba.

Jalannya Bagus dan Dirawat

Beberapa kilo meter sebelum masuk kota Siborongborong, karena saya menggunakan Google Map, langsung disarankan berbelok ke kanan masuk ke Jalan Muara. Setelah menempuh beberapa kilo meter ke depan ada simpang. Ke kiri menuju Bandara Silangit lurus tetap berada di Jalan Muara. Persimpangan terakhi, ke kiri menuju Muara dan lurus ke Huta Ginjang.

Sepanjang perjalanan saya melihat hutan pinus dan pemandangan hutan yang asri. Rumah penduduk berjejer rapi dengan jarak lebih dari 20 meter dari badan jalan. “Jika pemerintah ingin memperlebar jalan, biaya ganti ruginya tidak terlalu besar, ya,” ujar Nova Kristen sembari memegang kemudi Ford Renger yang kami naiki.

Jalannya menuju Huta Ginjang dari Simpang Lintas Sumatera mulus. Jadi iri jika saya membandingkan jalan menuju Parlilitan dari Dolok Sanggul. Kondisinya kurang bagus jika tak ingin disebut hancur-hancuran. Jika musim hujan tergenang, dan jika musim kemarau menerbar debu.

Ke Huta Ginjang dari Medan bisa ditempuh sekitar 6 jam berkendara perjalanan darat. Dari Bandara Silangit butuh waktu 20 hingga 30 menit berkendara. Sebagai tempat wisata, Huta Ginjang sudah menyediakan rumah makan, penjual sovenir. Danau Toba ternyata lebih elok dipandang dari Huta Ginjang. Tunggu, suata saat saya akan datang lagi. ***

Catatan: Janopa Sihotang